Beda Lulusan Sarjana Muda dan Sarjana (D3 dan S1)

Banyak juga masyarakat umum, mahasiswa, hingga pendidik, tidak memahami perbedaan pendidikan dan lulusan antara Program D3 dan S1. Itu dikarenakan ada banyak perguruan tinggi yang menyelenggarakan program D3 dan S1, kemudian menyamakan materi ajar bagi D3 dan S1 tersebut, mereka menetapkan perbedaan lebih pada jumlah SKS (Satuan Kredit Semester) yang harus ditempuh oleh mahasiswa. Bila D3 harus menempuh studi antara 110 – 120 SKS, dan S1 antara 144 – 160 SKS.

Umumnya program sarjana lebih menitik beratkan pada aspek analitis dengan 40 % praktik dan 60 % Teori. Sedangkan program D3 (Diploma) lebih menitik beratkan pada skill kerja dengan 60 % Praktek dan 40 % Teori. Program diploma mempersiapkan mahasiswanya untuk siap bekerja dan menghasilkan uang dengan keterampilan yang dimiliki, memiliki kualitas kerja (teknis dan praktis) yang bagus, ditambah memiliki aspek analisis dasar yang baik, meski tidak sedalam kemampuan mahasiswa S1.

Dapat dikatakan lulusan Sarjana lebih diarahkan menjadi pemikir, memiliki kemampuan menganalisis masalah, dan mengambil keputusan, mampu melakukan penelitian ilmiah yang memungkinkan menemukannya inovasi baru dalam bidangnya. Secara harfiah lulusan S1 sering juga dikatakan lebih cenderung ke arah loyalitas, image, dan kemampuan kerja dan berfikir mandiri.

Saat ini banyak perguruan tinggi menyelenggarakan program S1 yang menambahkan porsi mata kuliah praktik, atau memberikan tugas tambahan bagi mahasiswanya agar meningkatkan kemampuan/keterampilan dalam hal-hal teknis, ada juga yang menambah kegiatan praktik melalui virtual lab / alat simulasi, ada pula yang membekali mahasiswa dengan program-program sertifikasi (menawarkan atau memberikan materi-materi standar nasional/internasional) didalam atau diluar kurikulum. Sehingga banyak lulusan S1 yang mampu menjadi profesional, bekerja mandiri, dan mampu memimpin tim kerja yang trampil dan profesional (menjadi leader dan manajer).

Meski terkadang individualis atau egois, sering kali lulusan S1 tidak mampu kerja sendiri (mengandalkan tim kerja untuk mencapai hasil maksimal). Banyak lulusan S1 terkadang lebih cenderung mengejar gelar dan “upaya” cepat lulus. Sebagian lain yang memiliki kualitas akademis bagus mengupayakan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi hingga jenjang Doktor.

Suatu dilema jika menemukan lulusan program Diploma atau Sarjana yang bingung mencari kerja, namun juga tidak dapat membuka peluang usaha. Ini merupakan suatu dilema yang mendalam, apakah memang selalu benar semakin tinggi pendidikan yang kita raih, maka kualitas skill kerja kita semakin rendah? Karena pada intinya (menurut kaca mata umum) seseorang dapat dikatakan sukses karena kehidupannya layak di dunia.

Lantas, dengan apa membeli kehidupan yang layak itu? Sebagian membelinya dengan uang, sebagian lagi membayarnya dengan jasa atau hubungan baik (dengan sesama manusia atau sang pencipta) yang telah dibangun sebelumnya. Uang hanya akan didapat secara halal dengan jerih payah kita sendiri yaitu dengan ‘bekerja’ menyediakan tenaga, fikiran, barang atau jasa lainnya.

Jalur pendidikan terbagi menjadi dua, jalur akademis (sarjana) dan jalur profesional (diploma). Menurut beberapa referensi, jalur akademis terdiri dari S0 – S1 – S2 – S3. Strata 0 (non gelar) – Strata 1 (Sarjana) – Strata 2 (Master) – Strata 3 (Doktor), sedangkan jalur profesional terdiri dari D1 (Diploma satu) – D2 (Diploma dua) – D3 (Diploma tiga) –  D4 (Diploma empat) – Sp1 (Spesialis satu) dan Sp2 (spesialis dua).

Program pendidikan D3 mungkin sudah sering kita dengar tapi D1, D2, D4, Sp1 dan Sp2 yang mungkin tidak begitu akrab di telinga masyarakat luas. Bisa dikatakan D1 itu program kuliah satu tahun, D2 dua tahun dan D3 tiga tahun, sedangkan D4 empat tahun. D4 itu setara dengan S1/Sarjana di jalur profesional, sedangkan Sp1 itu setara dengan Master, Sp2 setara dengan Doktor, dan dapat dilihat dari beban SKS yang di tanggung.

Mungkin lebih mudah di contoh kan di bidang kedokteran jalur akademis nya adalah S.Ked (S1), M.Si/MPH (S2), dan Dr (S3), sedang jalur profesional-nya dokter (dr.), spesialis 1 (Sp.A/Sp.B) dan speasialis 2 (Sp.A(K)/sp.B(K)).

Bagi yang memutuskan memilih program diploma atau sarjana, atau perguruan tinggi tempat kuliah, terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan, misalnya :

  • Masa studi
  • Akreditasi perguruan tinggi
  • Program studi dan jenis keahlian yang dibutuhkan saat ini (gelar dan sertifikasi)
  • Ilmu pengetahuan dan keterampilan yang ingin diperoleh
  • Standarisasi mutu pendidikan, layanan administrasi, fasilitas, dan kualitas lulusan
  • Biaya studi dan biaya hidup
  • Relasi yang dapat dibangun
  • Pengalaman yang dapat diperoleh selama mengikuti studi
  • Kualitas materi pendidikan, kualitas serta prestasi dosen dan mahasiswa
  • Dukungan lingkungan perguruan tinggi terhadap proses belajar-mengajar dan peluang untuk meraih prestasi
  • Dukungan perguruan tinggi untuk membantu alumni mencari peluang kerja
  • Dukungan alumni yang sudah berhasil untuk membantu biaya operasional perguruan tinggi, dan bantuan untuk peluang kerja bagi alumni baru. 

Sebagian orang mengibaratkan dan menilai bahwa pendidikan Sarjana seperti pendidikan di SMA sedang Diploma seperti SMK. Ingat !!!! Bahwa kemandirian studi dan proses pengembangan potensi diri saat di perguruan tinggi harus lebih baik dibandingkan dengan saat studi di SMA/SMK dulu.

Sudah mulai memahami kan perbedaan nya ?

Baik kita lanjutkan lagi ke prospek kerja.

Prospek Kerja Sarjana dan Diploma “SAMA”

Karena Sarjana (S1) setara dengan Diploma (D-IV) .

Intermeso: Hanya saja untuk sementara ini karena masih dalam tahap sosialisasi dengan penyetaraan  terutama untuk setaraf nya D4 dan S1, maka belum semua kalangan industri tahu, mungkin masih ada salah satu perusahaan yang belum tahu sama sekali tentang kesetaraan D4 dengan sarjana (S1), sehingga terkadang  disamakan ke level D-III, namun pemerintah akan terus mensosialisasikan-nya dengan memberi pengertian apa itu D4, ke instansi-instansi publik nasional maupun internasional.

Namun perlu diingat sekali lagi  lulusan D4 yang lebih siap kerja dibanding S1 yang sekarang sudah mulai diperhitungkan oleh dunia industri. Optimisme kita bersama, tidak akan lama lagi tenaga profesional seperti Engineer akan lebih banyak diambil dari lulusan D4, karena memang D4 lah yang disiapkan untuk langsung bekerja serta dibekali keterampilan yang lebih daripada S1. Program S1 lebih di arahkan menjadi analisis dan manajemen pengambil keputusan.

Lanjut ke masalah PNS 

Tenang saja, untuk pegawai negeri, jenjang D4 sudah disamakan dengan S1 sehingga pertama masuk langsung sama-sama start di Golongan IIIA. Terakhir, kalau teman-teman di jalur diploma yang ingin memperdalam aspek analisis di bidangnya atau hanya sekedar buat jaga gengsi gelar nama saja, ada kok jalan keluarnya.

Lulusan D3 dapat langsung melanjutkan ke S1. Sedangkan D4 tentu bisa langsung melanjutkan ke jenjang S2, dan sebaiknya melanjutkan ke jenjang S2 profesional seperti misalnya MM/MBA dan DBA untuk bidang ekonomi. Tapi untuk yang sudah terlanjur mengambil gelar sarjana dan merasa bekerja dengan skill terbatas, kalian dapat mencoba meningkatkan skill dengan berlatih mandiri atau mengikuti pelatihan/kursus tambahan. Mencoba bekerja dan terus belajar atau meneruskan ke pendidikan profesi. Tapi memang tidak semua bidang menyediakan pendidikan profesi dan hanya PTN/PTS ber akreditas A dan B sajalah yang dapat melaksanakan-nya. Optimisme kita bersama, di tahun-tahun yang akan datang, akan semakin banyak pendidikan profesi di Indonesia, dan pendidikan-pendidikan berkualitas dari banyak PTN/PTS di seluruh Indonesia. Jika belum ada, kitalah yang mencoba membangunnya untuk meningkatkan potensi SDM lokal di seluruh Indonesia

Jadi … Kamu mau siap Pakai atau siap Kerja atau siap Membuaka Usaha (berwiraswasta)?. Semua kembali pada diri anda sendri, pilihlah sesuai hati nurani dan keinginan anda, semua ini hanya sebatas pemberitahuan (sharing knowledge) saja.

Salam.

Comments

comments

17 Responses to Beda Lulusan Sarjana Muda dan Sarjana (D3 dan S1)

  1. dewi syafitri says:

    thx infonya.. jadi gak bingun lg pilih yg mana

  2. infonya bermanfaat, karena gak semua orang yang mau masuk PT benar-benar tahu mau pilih yang mana.
    sukses selalu..

  3. Rada Pareza says:

    assalamu’alaikum.. Pak, saya ingim bertanya, jika kita sudah tamatan D3, ingin melanjutkan ke S1, berapa tahun dibutuhkan untuk menamatkannya? Samakah pelajaran yg diterima tamatan D3 ke S1 daripada tamatan SMA/SMK ke S1 ? Terimakasih Wslm

    • melwin says:

      Saat ini sebenarnya tidak direkomendasikan untuk D3 melanjutkan S1, karena jalurnya berbeda. D3 lanjutannya adalah D4. Namun jika ada beberapa PTS yang menawarkan transfer D3 ke S1, jika Anda masih memerlukan Ijazah S1 untuk menaikkan pangkat atau pendapatan, maka fasilitas tersebut silahkan digunakan (biasanya masa studi lanjutnya antara 1 s/d 2 tahun). Sebenarnya status/derajat D4 = S1.

      PTS penerima transfer D3 ke S1 atau D4 sebelumnya akan melakukan konversi nilai dari matakuliah sebelumnya yang sudah di ambil di D3, jika masih ada mata kuliah yang belum dapat di akui/dikonversi, maka kekurangan mata kuliah yang ada di program D4 atau S1 tersebut yang masih wajib di tempuh.

      Lamanya masa studi untuk transfer tersebut, tergantung Sedikit atau banyaknya matakuliah yang masih harus ditempuh dan kemampuan mahasiswa tsb dalam menyelesaikan studinya. Mahasiswa model seperti ini sering disebut mahasiswa transfer (alih jalur).

      Berbeda dengan siswa dari SMA atau SMK yang melanjutkan studi ke D3, D4, atau S1 (seperti mahasiswa baru lainnya)..

  4. okta says:

    mau tanya bagusnya kalau ambil analis untuk sekarang ini D3 atau D4. peluang kerja untuk D4 analis sama D3 bagaimana?

    • melwin says:

      Seperti yang telah di uraikan, pengetahuan untuk menjadi seorang analis bisa saja didapatkan dari pendidikan D4 atau S1, namun keterampilan dan jam terbang dalam mengerjakan banyak projek atau menyelesaikan banyak permasalahan yang ada terkait dengan project, dapat saja mendudukkan seseorang menjadi seorang analis, terlepas dia hanya berpendidikan D3 atau D4 atau S1 atau S2.

      Layak atau tidaknya seseorang menjadi seorang analis bukan di nilai dari gelar atau ijazah yang dia miliki, namun dari pengakuan orang lain terhadap kinerjanya. Meskipun dalam proposal sebuah project profesi seorang analis sering ditempatkan nama-nama orang yang memiliki gelar minimal D4 atau S1 atau yang memiliki gelar dari sertifikasi keahlian tertentu.

  5. risna bahy says:

    makasih infonya…
    (y)

  6. Febri Hariyanto says:

    Salam hangat buat mimin Melwin.
    Saya mau tanya nih, mungkin tidak yaa saya lulusan D3 bisa langsung lanjut ke S2?
    Mohon diberi pencerahan,
    trims 🙂

  7. dwi lestari says:

    kak saya mengambil teknik d3 informatika karena di poltek yg saya pilih hanya menyediakan d3 untuk teknik informatika. Sebenarnya ada juga d4 tapi itu d4 teknik informatika multimedia. Nah saya mau tanya, kalau lulusan d3 ini masih bisa ga dapat pekerjaan ataukah hanya yg setara dengan s1 seperti d4 yg diterima?

    • melwin says:

      Peluang kerja bisa untuk siapa saja yang mampu menunjukkan kualitas dan kompetensinya, bisa D3,D4,S1, bahkan untuk yang SLTA, SMK atau tidak memiliki pendidikan formal sekalipun. yang penting apakah semua program pendidikan yang ditawarkan, juga peluang kerja yang ditawarkan sudah sesuai dengan Passion Anda.

      Passion adalah sesuatu yang kita tidak pernah bosan untuk melakukannya. Passion adalah dimana kita akan mengorbankan segala hal untuk mencapai itu. Passion adalah dimana kita tidak memikirkan untung dan rugi. Passion adalah ketika kita melakukan hal itu begitu saja dan lupa dengan hal yang lain.

  8. Mantab!
    Terimakasih banyak utk pencerahannya min 🙂
    Sekarang jadi semakin mengerti.
    Sukses terus!!

  9. Ratna says:

    Kak kalo D4 itu harus punya ijasah D3 dlu ya? Brrti klo lulusan SMA hrus D3 dlu? Gk boleh lngsung D4? Mksih

  10. Yohanna Vitamara says:

    Assalamualaikum wr.wb pak.. Saya ingin bertanaya, saat ini saya dibangku kelas 12 SMA. kalau saya nantinya mengambil jenjang D3 akan lebih baik setelah itu saya melanjutkan ke D4 atau S1? Meskipin tadi sudah dibilang bahwa D4 dan S1 itu setara. Tetapi mana yg lebih bagusnya untuk saya lanjuti pak? Contohnya ini ada 3 pilihan jurusan yg nanti saya ingin mengambil pada jenjang D3 :
    1. analis kimia
    2. manajemen industri gizi dan makanan
    3 manajamen industri

    Serta di artikel ini disebutkan peluang kerja D3 dan S1 itu “sama”, nah jika sama kenapa sampai sekarang masih banyak lulusan D3 itu melanjutkan ke S1? Apakah karena gelar D3 itu kurang diakui di dunia kerja? Terimakasih jika bapak berkenan untuk menjawabnya sangat membantu saya.

    • melwin says:

      Jika anda ingin menempatkan skill (keterampilan) sebagai andalan Anda untuk meraih peluang kerja, maka rekomendasi lanjutan studi dari D3 adalah D4. D4 banyak dibutuhkan di industri-industri yang mencari “talent-talent” (pekerja) yang memiliki kemampuan teknis sangat baik, karena problem yang dihadapi seringkali hal-hal teknis dilapangan. Kantor-kantor yang sering merekrut tenaga Sarjana (S1) lebih banyak membutuhkan karyawan yang siap dipromosikan menjadi leader yang memiliki konsep pemikiran (alur berfikir) yang terstruktur, keahliah untuk menyelesaikan pekerjaan bisa diperoleh dengan menyekolahkan atau memberikan karyawan pelatihan. Pola berfikir ilmiah dan keahlian komunikasi sangat mendominasi kompetensi seorang Sarjana (S1).

      Jika Anda memilih program D3 (saat ini dikenal dengan nama Program Diploma), anda tinggal melihat ketertarikan anda di bidang apa?, siapa orang lain yang anda kenal dari masing-masing bidang tersebut yang telah sukses karirnya?, sehingga anda berkesempatan untuk bertanya-tanya tentang bidang tersebut kepadanya (apa ilmu yang diajarkan, bagaimana peluang kerjanya, sulit atau tidak menyelesaikan studinya).

      Jika saat ini banyak lulusan D3 melanjutkan ke S1 (sekarang disebut program sarjana), itu karena informasi yang dia terima bahwa tuntutan lowongan kerja hanya untuk S1, atau rekrut lulusan sarjana untuk perwira TNI dan Polri, dll. Namun jika dia melihat bahwa peluang lulusan D3 untuk menjadi profesional, konsultan, enterpreneur (pebisnis) jauh lebih besar dengan penghasilan yang jauh lebih besar dari seorang sarjana, maka Lulusan Program Diploma tidak bisa dianggap remeh.

      Dinegara seperti Indonesia, keberadaan gelar sarjana masih menjadi alat ukur menilai kesuksesan seseorang, menjadi kebanggaan keluarga, menjadi nilai tawar ketika seorang wanita “dilamar”, menjadi alat ukur untuk memberikan gaji seseorang. Sehingga masih banyak yang berlomba-lomba mendapatkan selembar ijazah dan transkrip nilai (dengan berbagai cara)

      Dibanyak negara lain di dunia, ada banyak office, industri tidak bertanya “apa gelar anda”? dimana kampusnya?, berapa nilai IPK-nya?
      Yang mereka tanyakan, berapa lama pengalaman anda bekerja dibidang tsb?, apa sertifikat keahlian yang sudah anda peroleh?, berapa gaji (penghasilan yang anda minta)? Apa kontribusi yang bisa anda berikan untuk kemajuan kantor, institusi kita saat ini, mampukah anda bekerjasama dalam sebuah TIM?.

      Semoga keterangan diatas bisa membantu.

  11. Isti says:

    Mau tanya, emang kalo daftar program d3 dan lolos seleksinya harus diambil dan tidak boleh ditolak?

    • melwin says:

      Jika anda sudah cocok dengan Program D3, yakin bisa mencapai kompetensinya, dan mengerti peluang kerja atau peluang bisa buka usahanya. silahkan di ambil. Namun kalau ragu kompetensi dari kampus tsb tidak tercapai (nanya alumni dari kampus tsb apakah kompetensi yang dijanjikan kampus beneran bisa tercapai). Jika nggak terbukti, cari referensi kampus lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *