Bagaimana Seharusnya Penelitian Mahasiswa D3 dan S1

Seorang rekan dosen baru, pernah bertanya kepada saya tentang perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa D3 dan S1. Pertanyaan ini ia ajukan karena ia merasa belum menemukan standar yang pas dan baku tentang tata cara penelitian dimasing-masing jenjang pendidikan. Selain belum adanya standar, kadang sebagai dosen, saya dan rekan dosen lain  sering dibuat bingung oleh judul yang diajukan mahasiswa. Judul yang diajukan mahasiswa S1 seringkali terlalu rendah untuk level mereka (lebih cocok untuk dijadikan penelitian oleh mahasiswa D3 atau malah SMK) atau sebaliknya, judul yang diajukan oleh mahasiswa D3 malah kadang terlalu tinggi (lebih cocok dijadikan skripsi atau malah tesis).

Lalu Bagaimana Seharusnya?

Jika dianalogikan dengan tingkatan pendidikan dari TK, SD, SMP dan SLTA, sebenarnya dalam penelitian, mahasiswa D3 berada pada level anak TK. Analogi ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan suatu strata. Dalam analogi tadi, jika siswa SD sudah mulai bisa mengeja atau membaca sedikit demi sedikit maka siswa TK baru diajarkan untuk mengenal huruf. Siswa yang baru belajar mengenal huruf tentu saja tidak bisa dipaksa untuk membaca satu paragraf kalimat dan sebaliknya bagi mereka yang sudah belajar membaca, tentu saja huruf-huruf menjadi hal yang sudah tidak perlu lagi diajarkan, melainkan perlu didorong untuk membaca lebih banyak tulisan lagi.

Ada pula yang meng-analogikan dengan level penulisan karya ilmiah SMK, D3, hingga S3, seperti orang yang mau mengakses sebuah bangunan bertingkat (basement, lt.1, lt.2, lt.3, lt.4 tanpa lift/escalator). Bila Lt.1 adalah untuk siswa SMK, maka siswa SMK berada di Lt. 1, mereka magang di suatu instansi, membuat laporan kegiatan, menyimpulkan dan membuat laporan ilmu baru yang mereka kenal dari proses magang tersebut (mereka cukup mudah mengakses lt. 1 karena hanya menaiki beberapa anak tangga dari basement ke lt. 1). Kalaupun mereka ikut terlibat dalam mengerjakan project, seperti membuat jaringan atau membuat program, sifatnya: instruksional (membuat seperti apa yang diinginkan pemakai, tidak perlu analisis, dan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan ilmu dan pengetahuan yang mereka pelajari di sekolah).

Karya ilmiah mahasiswa D3 dianalogikan seperti menaiki anak tangga dari basement menuju lt. 2. Perlu sedikit upaya melebihi siswa SMK (mereka memiliki dasar pengetahuan, ketika diberi instruksi untuk mengerjakan sesuatu, seperti: membuat jaringan atau program, mereka menggali kebutuhan seperti apa yang sebenarnya diinginkan oleh pengguna, merancang dan mengembangkan sistem baru bila diperlukan, atau cukup mengoptimalkan resource yang sudah ada, sehingga dapat digunakan secara maksimal. Akhirnya apa yang mereka kerjakan dapat digunakan dan hasilnya sesuai harapan pengguna.

Karya ilmiah mahasiswa S1, dapat di analogikan seperti menuju lt. 3 dari basement. Selain harus memiliki ilmu pengetahuan dasar dan keterampilan yang mendukung, menganalisis permasalahan secara mendasar (mendalam), dapat menawarkan beberapa solusi untuk menyelesaikan masalah, dan memilih solusi terbaik dengan berbagai pertimbangan (alasan), mengenali faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh solusi yang ditawarkan, serta mampu merancang, mengembangkan, serta mengimplementasikan solusi yang ditawarkan. Melakukan pengujian sistem sebelum solusi di implementasikan, dan mengevaluasi kelayakan sistem saat atau sesudah di implementasikan.

Seseorang yang menaiki lt.3 atau lantai yang lebih tinggi lagi dari basement tidak hanya butuh tenaga lebih, namun juga harus mempelajari situasi dan kondisi lingkungan sekitar, perlu kehati-hatian, bila kelelahan dimana tempat istirahat sebelum melanjutkan perjalanan, bila terjadi bencana apa sikap/tindakan yang harus diambil. Meloncat dari lt. 3 ke lantai dasar pasti merupakan tindakan bunuh diri. “Jangan hanya pembuat sistem baru tanpa mengetahui akar masalah dan kebutuhan”. Hanya menaiki tangga tanpa mengenali resource yang ada disekitar, tentu merupakan tindakan “bodoh”.  “Hanya tulis laporan asal jadi, asal ada program, asal ACC pembimbing, dan coba pendadaran (berharap mudah-mudahan lulus), merupakan tindakan “bodoh” karena, laporan skripsi merupakan bukti otentik hasil kerja ilmiah mahasiswa S1.

Dari prosedur aturan penulisan kita dapat belajar tata bahasa yang benar, sekaligus mempertahankan salah satu aset kekayaan bangsa, yaitu: “Bahasa Indonesia”. Tata bahasa yang benar kita butuhkan bila kita berkomunikasi dengan fihak lain secara tertulis (resmi). Dari prosedur penelitian (metode penelitian), kita dapat belajar cara mengurai permasalahan hidup yang kita alami, belajar berfikir dan bertindak secara ilmiah. Memburu pembimbing agar dapat memberikan ACC pendadaran padahal belum siap, berarti melepaskan tanggungjawab dari pembimbing untuk ikut serta bertanggung jawab atas penelitian dan hasil penelitian yang dilakukan. Akhirnya, mencoba pendadaran tanpa persiapan yang matang, berarti mengorbankan waktu dan tenaga untuk mendapatkan hasil yang “pasti gagal”.

Nah, rekan-rekan dosen dan mahasiswa, jika dipindahkan kembali ke dalam analogi penelitian yang sudah kita bahas sebelumnya, maka seharusnya mahasiswa D3 tidak terlalu dituntut untuk melakukan penelitian yang canggih, cukup yang sederhana saja. Lalu, bagaimana defenisi dari kata-kata sederhana itu sendiri? Menurut saya, dalam taraf ini, mereka cukup sampai pada taraf memahami tentang aktivitas penelitian itu sendiri seperti belajar menyusun latar belakang yang baik; menemukan literatur yang bisa disadur dengan pas; serta menyimpulkan hasil penelitian mereka dengan baik.

Untuk level D3, mereka cukup melakukan penelitian yang bersifat deskriptif dan kualitatif saja, misalnya dengan melakukan penelitian yang bersifat studi kasus, melakukan replikasi penelitian dan menggantinya dengan sampel yang berbeda, atau jika harus memakai perhitungan statistik cukup dengan memakai perhitungan yang sederhana saja seperti perhitungan statistik deskriptif. Yang paling penting untuk diingat adalah bahwa mereka sedang belajar meneliti, sehingga tidak perlu menuntut mereka terlalu tinggi. Jadi, kalaupun tugas akhir mahasiswa D3 hampir mirip dengan laporan magang dan PKL pada mahasiswa S1, itu seharusnya masih bisa dimaklumi. Kalau meminta mereka untuk bisa memahami dan melakukan penelitian dengan pengujian statistik yang rumit itu? Menurut saya itu belum saatnya, namun juga bukan berarti hal ini menjadi pembatas untuk mereka yang ingin melakukan penelitian yang levelnya diatas level  D3.

Jika mahasiswa D3 baru belajar meneliti maka mahasiswa S1 sudah sampai ke taraf belajar untuk meneliti dengan baik. Apa yang dimaksud dengan meneliti dengan baik itu? Kalau menurut saya, belajar meneliti dengan baik itu berarti memiliki pemahaman terhadap jenis penelitian yang mereka lakukan; hubungan antara penelitian yang mereka lakukan dengan bidang keilmuan yang mereka pelajari, bagaimana sifat penelitian yang dilakukan; apakah ia bersifat kualitatif atau kuantitatif; variabel apa saja yang ada di dalam penelitian tersebut; bagaimana mendefenisikannya; bagaimana ia harus diuji, bagaimana sampel dipilih hingga bagaimana kesimpulan terhadap penelitian tersebut harus diambil. Sehingga untuk mendukung tujuan agar mahasiswa S1 sampai ke tahap ini, mereka sudah mulai diperkenalkan dengan mata kuliah statistik, metodologi penelitian, dan rancangan skripsi.

Mereka yang sudah mulai belajar mengeja dan membaca, sudah mulai bisa diminta untuk membaca baris demi baris, hingga meningkat ke paragraf dan kemudian meningkat menjadi halaman atau bahkan menjadi bab. Begitu juga dalam melakukan penelitian, mereka yang sedang belajar meneliti dengan baik, seharusnya sudah mulai bisa diminta untuk melakukan penelitian yang tidak sederhana lagi, seperti melakukan penelitian yang menggunakan model penelitian tertentu, atau penelitian yang sudah mulai menggunakan pengujian statistik yang lebih kompleks. Namun demikian, bukan berarti penelitian dengan menggunakan pengujian statistik menjadi harga mati sebuah untuk mengatakan sebuah penelitian menjadi rumit atau tidak. Penelitian yang bersifat studi kasuspun banyak yang tidak kalah rumit asal dilakukan dengan kajian yang mendalam dan detil.

Di luar perdebatan bagaimana seharusnya sebuah penelitian dilakukan oleh mahasiswa D3 dan S1, kita jangan pernah melupakan bahwa yang penting dari sebuah penelitian itu adalah kontribusinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian itu sendiri dan kontribusinya terhadap pengalaman belajar mahasiswa itu sendiri.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *